Pengertian Taubat, dan Cara Taubat Menurut Ibnu Athoillah Al Askandari Sohibul Hikam

  • Whatsapp

Taubat lah yang membersihkan kegelapan dalam hati lalu tampaklah berbagai amal baik yang memunculkan aroma penerimaan dari Allah SWT.

Maka, selalu memohonlah taubat kepada Allah SWT, apabila engkau mendapatkannya maka waktu mu tidak sia sia, karena Taubat adalah salah satu anugrah yang diberikan kepada hamba-hambanya yang ia kehendaki.

Dan terkadang seorang hamba yang pecah mata kakinya pun mampu memperolehnya yang padahal tuan nya sendiri tidak mendapatkannya, dan terkadang seorang wanita memperolehnya sedangkan suaminya tidak, begitu juga seorang pemuda memperolehnya sedangkan orang tua tidak. Oleh karena itu, jika kau berhasil mendapatkan anugerah tersebut itu menandakan bahwa Allah SWT mencintaimu, karena Allah berfirman :
(إنّ الله يحبّ التوّابين ويحبّ المتطهّرين)
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan juga mencintai orang yang bersuci”

Sesungguhnya seseorang tidak menginginkan sesuatu yang tak ia ketahui kadarnya, walau seandainya engkau menebarkan berlian di hadapan seekor binatang ternak niscaya binatang tersebut lebih memilih gandum daripada berlian.

Fikirkanlah !, engkau termasuk kelompok mana?, apabila engkau bertaubat maka kau tergolong orang yang dicintai, namun jika engkau tidak bertaubat maka engkau tergolong orang yang dzolim, Allah SWT berfirman :
(ومن لم يتب فألئك هم الظالمون)
” Dan barangsiapa yang tidak mau bertaubat maka mereka ialah orang-orang yang dzolim”

Barangsiapa yang bertaubat maka ia adalah orang beruntung, sedangkan orang yang tidak bertaubat maka ia telah merugi.
Dan janganlah engkau berputus asa dengan mengatakan ” sampai kapan aku harus bertaubat ? berapa kali? “, sebab orang yang sakit akan selalu memohon kesembuhan selama masih ada ruh didalam dirinya.

Tatkala seorang hamba bertaubat kepada Allah SWT maka surga yang menjadi tempatnya merasa senang begitupun dengan langit dan bumi serta Rasulullah Saw.

Sesungguhnya Allah SWT tidak ridho bila kamu menjadi orang yang cinta, tapi Alloh ridho kalau kamu menjadi orang yang dicintai. Maka dimanakah kedudukan orang yang dikasihi dan orang yang mengasihi?
[5:07 pm, 14/07/2022] Olsasufyan: Orang yang bermaksiat tidak akan mengetahui kebaikan yang diberikan oleh dzat yang maha memberi kebaikan, oleh karena itu dia berani berbuat kemaksiatan. Dan orang yang suka berbuat maksiat tidak mungkin bisa mengetahui atau mengerti kebaikannya, dan ia tidak mungkin mengetahui kedudukan dzat yang maha memberi jika ia tidak mau mengamati dan memperhatikannya.

Tidak akan beruntung orang-orang yang disibukkan oleh selain Allah SWT sedangkan ia mengetahui bahwa nafsu selalu mengajaknya kepada kehancuran namun masih ia ikuti, dan ia mengetahui bahwa hati nurani selalu mengajaknya kepada kebaikan malah ia berbuat maksiat, dan bahkan ia mengetahui kedudukan dzat yang ia maksiati (durhakai) tapi tetap saja ia bermaksiat – padahal andaikan ia mengetahui sifat-sifat keagungan Tuhannya niscaya ia tidak akan berbuat maksiat – dan ia pun mengetahui bahwa Tuhan nya dekat bersamanya dan mengawasinya tapi masih saja melanggar larangannya, dan ia juga mengetahui efek dari berbuat dosa baik itu di dunia atau di akhirat dan baik itu samar (tak tampak) atau tampak namun ia masih tidak punya rasa malu dihadapan Tuhan nya, seandainya ia tahu bahwa dirinya senantiasa berada dalam genggamannya niscaya ia tidak akan pernah berani bermaksiat kepada-nya.

Ketahuilah bahwa kemaksiatan mengandung makna merusak janji kita dengan Allah SWT, melapakan hubungan cinta kita kepada Allah SWT, mengutamakan selain Allah, mengikuti hawa nafsu, melepas rasa malunya, dan melawan Allah dengan melakukan sesuatu yang tidak diridhoinya.

Selain itu, terdapat dampak-dampak eksternal diantaranya ,seperti : terlihat suram, tidak mudah menangis karena terharu, malas berbuat baik, tidak menjaga kehormatan diri, selalu menuruti hawa nafsunya, dan hilangnya cahaya ketaatan.
Dan dampak-dampak internal, seperti : keras kepala, hati keras, jiwa yang selalu menentang, dirinya dipenuhi syahwat, hilangnya kenikmatan melakukan ketaatan, banyaknya penghalang yang menghalangi terpancarnya Nur/cahaya, berkuasanya hawa nafsu, dan masih banyak lagi, seperti: hati selalu ragu-ragu, lupa kalau nanti kan kembali menghadap Alloh, dan lamanya penghitungan amal.

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *