Kewalian bukanlah orentasi, orentasi sesungguhnya adalah ridho Allah

  • Whatsapp

Kita akan melanjutkan pembahasan kita sebelumnya, terkait dengan ‘Siapakah waliyullah dan apa tahapan untuk menjadi waliyullah, serta bagaimana Allah memuliakan waliyullah di dunia sebelum di akhirat kelak?’

Seorang wali, sebagaimana yang kita bahas semalam adalah manusia yang penuh dengan anugerah, Manusia yang penuh dengan kemuliaan, Manusia yang adanya di dunia dengan tujuan dan rahmat daripada Allah SWT untuk hamba-hamba-Nya, Sehingga pantas kalau Habib Abdurrahman Bilfaqih, beliau mengatakan :

وَ كَيْفَ يَخْلُوْ عَالَمُ الشَّهَادَةِ بِهِمْ وَ هُمْ فِيْهِ هُدَاةُ الْقَادَةِ,

Bagaimana akan sunyi alam semesta dan jagat raya ini daripara para wali-Nya? Padahal mereka itu merupakan sebuah pemberi petunjuk, Pemberi penuntun, pembawa kabar gembira, pemberi semangat bahkan pengaman,

بِهِمْ يَدفَعِ اللهُ الْبَلَايَا وَ يُسْدِيْ كُلَّ خَيْرٍ وَ نِعْمَةِ,

فَلَوْ لَا هُمْ بَيْنَ الْأَنَامِ لَأُهْلِكَتْ جِبَالٌ وَ أَرْضٌ بِارْتِكَابِ

Kata Habib Abdullah Al-Haddad, “Dengan adanya mereka, Allah Ta’ala menurunkan nikmat-nikmat, Karena mereka, Allah cegah turunnya bala’ dan cobaan serta musibah, Kalau bukan karena mereka ada di sekitar kita, maka niscaya yang namanya pegunungan yang tertancap kuat kokoh di muka bumi, akan diterbangkan Allah SWT dan akan dihempaskan serta dipertemukan satu dengan yang lainnya, Sehingga akan menyebabkan kehancuran dan kebinasaan bagi umat ini, Tapi berkat mereka kita masih aman”,

Oleh karena itu, beruntung yang mempunyai keluarga seorang wali ataupun kerabat seorang wali, Begitu pula sahabat seorang wali, atau berdekatan dengan seorang wali, sebagai tetangga, sebagai mitra dan sebagainya, Apalagi bagi sang wali itu sendiri,

Kita tahu kan, bagaimana cinta itu kedudukannya di mata manusia? Sangatlah tinggi, Sangatlah spesial, Tidak ada duanya, dan berada di dalam sebuah kemuliaan dan kehormatan, yang tidak akan dilepas oleh pelakunya, Itulah cinta yang disebutkan Allah SWT di dalam hadits Qudsi :

وَ لَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ اِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ, فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ, كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ وَ بَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ وَ يَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا وَ رِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا, لَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ, وَ لَئِنِ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيْذَنَّهُ,

 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى قَالَ: مَنْ عَادَى لِي وَلِيَّاً فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالحَرْبِ. وَمَا تَقَرَّبَ إِلِيَّ عَبْدِيْ بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلِيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ. ولايَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ، وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِيْ بِهَا. وَلَئِنْ سَأَلَنِيْ لأُعطِيَنَّهُ، وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِيْ لأُعِيْذَنَّهُ) رَوَاهُ اْلبُخَارِيُّ

 

Itulah ciri-ciri para wali yang akan mendapatkan anugerah dari Allah SWT, Apa anugerah –anugerah tersebut? Kita akan membahas tahapan-tahapannya untuk motivasi kita mendapatkan kemuliaan tersebut, Dan semoga kita bukan hanya mendengar, mengetahui akan kemuliaan seorang wali, tapi kita juga pernah mengecap dan merasakannya, Insya Allah di dunia sebelum di akhirat, Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin, Allah Ta’ala berfirman :

وَ لَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ اِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ,

Rukun utama, Syarat yang paling utama untuk kita menjadi seorang waliyullah, kita gak boleh mendekatkan diri kepada Allah SWT hanya dengan yang standar, yang hanya yang diwajibkan saja, Hanya menjauhi yang dilarang saja, tidak, Tapi kita harus lebih daripada itu, Karena tujuan kita adalah untuk memantik, Bagaimana sih caranya kita memantik perhatian seseorang? Maka Allah gunakan prosedur itu terkait dengan bagaimana Allah mengangkat seorang wali-Nya, Nanti kita bahas bagaimana tahapannya itu,

Yang pertama, ketika Allah sudah mengangkat seorang wali menjadi wali-Nya menjadi kekasih-Nya, menjadi kecintaan-Nya, maka Allah berikan kekuatan pendengarannya, penglihatannya, kekuatan tangannya, keberkahan tangannya, Begitu pula kekuatan langkah dan kakinya, Allah berikan kekuatan daripada kekuatannya, Allah jaga itu semua daripada segala hal yang membuat murka atau bisa menjadi contoh yang tidak baik kepada hamba-hamba yang lainnya, Karena Allah mencintainya,

Oleh karenanya, di sini kita harus tau bahwasanya ketika Allah mencintai seseorang, maka Allah berkehendak orang itu melakukan sesuatu yang dicintai oleh Allah, bukan karena dia yang berusaha, Karena Allah dulu yang mencintai, baru kemudian Allah berikan usaha di dalam dirinya untuk menjadi orang yang dicintai oleh Allah, Oleh karena itu, Allah SWT berfirman :

ثم تاب عليهم ليتوبوا,

Maka kemudian Allah SWT memberikan taubat kepada mereka, untuk apa? Supaya mereka bertaubat, Yang pertama kali, Allah yang memberikan, Allah yang memberikan bahasa berupa taubatnya, baru kemudian mereka itu bertaubat kepada Allah Ta’ala, Allah berkehendak, Tidak ada seorang walipun yang diangkat Allah sebagai seorang wali, kecuali Allah berkehendak, Bukan dimulai dari dianya dulu, tapi Allah berkehendak,

Oleh karena itu, kaitannya kita dengan orang lain, baik itu keluarga atau guru, kerabat, handai taulan dan lain sebagainya, tidak bisa kita lepas, Hablumminallah dan habblumminannas harus kita lalui keduanya dengan maksimal, Itu yang diperintahkan Allah SWT dan Rasul-Nya nanti, Allah berkehendak,

Artinya apa? Kewalian itu bukanlah sebuah orientasi sebetulnya, Akan tetapi orientasi kita sebetulnya adalah mencari ridho-Nya, mencari pahala-Nya, mencari kedudukan di sisi-Nya, mencari suatu keadaan di mana kita tidak dimurkai-Nya, itu yang kita cari, Tapi kalau kita itu mau dijadikan sebagai wali-Nya atau tidak, itu bukan urusan kita, Itu adalah sebuah anugerah yang Allah berikan kepada kita, tapi yang menjadi urusan kita adalah bagaimana memantik perhatian Allah, cinta Allah, Itu yang dilakukan para auliya’ untuk diangkat menjadi wali-Nya, Tatkala mereka sudah diberi kekuatan, kemuliaan yang terkait dengan kekuatan Allah SWT, maka mereka itu tampak kepada dirinya karomah dan lain sebagainya,

Itu di antara pertanda yang kecil, Tapi nanti ada pertanda yang besar, Wali dan yang bukan itu, apa pertandanya? Pertama kali kita akan membahas itu, Tapi sebelum kita membahas, sekali lagi saya tegaskan bahwasanya di sini saya berbicara terkait dengan para wali ini, sebetulnya bukan karena kapasitas saya untuk berbicara terkait wilayah itu, Karena memang ada suatu kaedah berbunyi, gak ada yang tau wali, kecuali ya wali juga,

Jadi kalau orang gak berpengalaman, lalu dia itu berbicara tentang kewalian, nah itu sangat-sangat tidak sinkron ucapannya sebetulnya, Tapi saya cuma menukil saja apa yang saya ketahui, apa yang saya dengar daripada guru-guru kami, Semoga kita semua termasuk yang berada dalam ranah tersebut, sehingga kita kemudian bisa menceritakan lebih banyak terkait para wali itu insya Allah, Aamiin Ya Robbal ‘aalamiin,

Lalu kemudian apa tahapannya? Wali? Apa tahapan menjadi wali? Nanti setelah itu akan kami bahas terkait dengan apa pertanda atau tanda-tanda dia itu seorang wali, Yang pertama kali adalah apa tahapannya, Sudah jelas tadi bahwasanya tidak cukup kita itu melaksanakan semua standar yang semua orang melaksanakannya secara umum, Tidak, Dengan ditunjuknya, sulit untuk kita itu mendapatkan kewalian yang kasbi, tapi bukan yang wahbi,

Tentunya kita harus pahami di sini kewalian yang kasbi lebih afdhal dari kewalian yang wahbi, Karena wahbi itu karena orang tuanya, karena gurunya, karena berkatnya orang lain dan lain sebagainya, Kemudian dia diangkat menjadi seorang wali, seperti Nabiyullah Harun diangkat berkat Nabi Musa, Itu termasuk wahbi, Walaupun harus ada kasab juga, usaha juga, upaya juga yang menjurus kepada keadaan dia yang bisa diangkat menjadi seorang wali, Harus itu, Tapi itu adalah wahbi, Maka kemudian tahapan yang harus dilalui oleh seorang wali tadi, selain yang dia itu harus melebihkan dzatnya manusia terkait dalam kewajiban maupun larangan, sehingga dia itu melihat sebuah kewajiban itu lebih wajib daripada yang wajib,

Sebagaimana dipandang oleh para umumnya kaum muslimin, dia memandang yang namanya suatu larangan itu lebih haram daripada pandangan kaum muslimin pada umumnya dalam melihat sesuatu yang diharamkan, Oleh karenanya, di sini Allah Ta’ala berfirman dalam Al–Quran :

أَلَا إِنَّ أوْلِيَاءَ اللهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَ لَا يَحْزَنُوْنَ,

إِنَّمَا يَخْشَى اللهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ,

Yang takut kepada Allah hanyalah para ulama, Ulama itu siapa? Ya para aulia itu,

Oleh karena itu, maka di sini proses yang harus dijalani dan dilakoni oleh seseorang yang akan menjadi wali itu adalah, yang pertama harus berjuang mati-matian, berusaha yang gigih, berupaya dan begitu pula untuk mendapatkan suatu keadaan yang di atas standar rata-rata kaum muslimin,

Tidak ada orang wali itu biasa-biasa saja, Orang wali itu, selain dia itu sholat 5 waktu, dia itu sholat qobliyah ba’diyah, yang sunnah muakkadah, bahkan yang ghoiru muakkadah, Tidak ada wali itu yang tidak bangun malam, Bahkan umumnya bangun malam, Kalau tampaknya tidak bangun malam, dia bangun malam sebetulnya, kita saja yang nampak dia itu tidur untuk menutupi, Jadi ada standar yang pertama, Dan kemudian yang lebih utama untuk kita fahami, tahapan yang harus mereka lalui adalah sesuai dengan firman Allah Ta’ala ‘siapa auliya Allah yang لا خوف عليهم و لا يحزنون itu?’

الَّذِيْنَ آمَنُوا وَكَانُوْا يَتَّقُوْنَ,

Mereka yang beriman dan mereka yang bertakwa,

Jadi, banyak yang salah faham di sini, Disangkanya mereka yang beriman pokoknya menjadi seorang mukmin, pokoknya dia itu bertajuk dirinya perangainya seperti seorang mukmin, Mukmin itu adalah sebuah pencapaian, bukan sebuah gelar, Seperti orang arab dikatakan ‘arobiyyun, selain arab dikatakan ‘ajamiyyun, dari gelar saya S3 digelari Doktor, tidak! Wali bukan gelar, Wali itu sebuah pencapaian, Tampaknya memang sebuah gelar, tapi yang memberikan bukan manusia, Kalau manusia yang memberikan, itu gelar, Tapi kalau Allah Ta’ala yang memberikan itu adalah wilayah, kenikmatan,

Kita tidak bisa mempunyai akses ke sana itu tidak bisa atau kita bertanya-tanya, kapan saya ini punya ipar ini jadi wali? Tidak tahu walinya ini wali apa, Kita tidak tahu apakah walinya majdub atau wali salib kita tidak tahu, Tapi wali majdub itu sendiri, setiap wali harus wali majdub, Wali majdub itu adalah jalan yang harus dilalui oleh setiap wali, Jadzbiyah namanya, Cuma kalau syari’atnya itu kuat, maka jadzbiyahnya itu sebentar, Kalau syari’atnya tidak kuat, bisa jadi terus sampai seumur hidup, tapi dia disebut dengan wali majdub,

Siapakah wali majdub itu? Wali majdub itu adalah wali yang pikirannya, normalnya, atau nalarnya sebagai manusia itu, dicabut oleh Allah Ta’ala karena cintanya kepada Allah, Herannya, justru kita itu lebih senang kepada wali-wali yang majdub, padahal tidak ada faedahnya kita mendekat pada mereka, walaupun pasti ada kaitannya, Artinya jangan–jangan kita berdoa kepada dia, moodnya lagi tidakgi tidak seneng atau sebagainya, akhirnya dia bukan malah mendoakan yang baik, mendoakan yang jelek, apa yang terjadi kira-kira? Karena cara berpikirnya, pola pikirnya sedang bersama Allah, Jadi bukan kapasitasnya dia sebagai seorang yang berbicara, berkomunikasi dengan sesama manusia normal, tapi jangan bilang-bilang,

Oleh karenanya, wali majdub itu jangan dijauhi, jangan didekati, Kalau dia datang, kita hormati, kita mulyakan, Tapi bukan sebagai tempat untuk kita berdatang kepadanya, Kalau mau minta keberkahan, tidak papa, Tapi jangan sampai mendekat melebihi daripada itu, Karena ketika dia itu sudah tidak suka, maka bisa timbul sesuatu yang membahayakan dia, itu yang terjadi pada wali majdzub, Jadzbiyyah, Jadi dia itu tertarik nalar pikirannya kepada Allah, karena cintanya kepada-Nya, hanyut dalam cinta kepada Allah, sehingga dia itu seperti orang yang kayaknya gila, Itu wali majdzub namanya dan banyak ceritanya,

Wali majdzub kebanyakan adalah seorang wali yang kita itu harusnya tidak bisa belajar pada dia, karena nalarnya tidak sama seperti kita, Kapasitasnya bukan sebagai pengajar, tapi kita mengambil berkahnya, silahkan, Gimana caranya mengambil berkahnya? Layani dia, senangkan dia, turuti permintaannya, tidak apa-apa, Tapi kalau seumpama kita itu meminta doa sama dia, takutnya doa yang keluar itu bukan doa yang kita inginkan, itu masalahnya, Tapi kalau wali salib, dia itu tau dan faham mana yang diperlukan, mana yang sangat dibutuhkan, mana yang lebih utama, mana yang tidak,

Iman itu adalah sebuah pencapaian yang kalau seumpama kita itu sudah menggenggamnya, gelar langsung dari Allah tersebut sebagai seorang mukmin, Maka banyak hal yang terjadi, di antaranya adalah Nabi SAW bersabda :

إنَّ الْمُؤْمِنِيْنَ لَا يَخَافُ,

Orang mukmin itu tidak pernah takut, Kalau kita masih ada rasa takut, bukan mukmin, Orang mukmin tidak pernah takut, takutnya hanya kepada Allah, Tapi tidak ada kaitannya sama Corona, Kita takut sama Corona, berarti bukan wali, bukan mukmin? Gak, Mukmin tetep mukmin, mukmin itu adalah yang paling getol dalam melaksanakan perintah-Nya Allah Ta’ala dan Nabi Muhammad SAW, Dan perintah-Nya Allah Ta’ala kepada seorang mukmin itu adalah :

وَلَا تُلْقُوا۟ بِأَيْدِيكُمْ إِلَى ٱلتَّهْلُكَةِ

Jangan biarkan diri kamu ada di dalam ranah-ranah kebinasaan, Jauhi! Usaha! Upaya! ‘Aqil fatawakkal! Kata Nabi SAW, Jadi kita harus berusaha, Kita jangan takut kepada penyakitnya, Tapi kita itu diperintahkan untuk lari daripada sesuatu yang menular, yang membahayakan, Kalau seumpama kita itu hanya yakin, tidak usah takut, kita hanya takut kepada Allah SWT, kita hanya yakin dengan takdirnya, ya sudah, Kenapa kita itu tidak harus repot-repot, misalnya ada orang yang mengatakan kamu semua sudah mempunyai komitmen yang semacam itu, ya sudah tidur aja di atas rel, jangan takut sama kereta, apa yang terjadi? Itulah dilindas, terputus badannya, itu yang terjadi,

Jadi kita diperintahkan, jangan! Jangan dekati kalau ada kereta, jangan di rel, Kalau tidak ada kereta, ya tidak papa kalau kita mau jemur udang buat terasi, tidak papa, Tapi kalau pas lagi ada kereta, ambil itu, jangan kita jemur, Jangan coba-coba mendekat, oh tidak saya tidak takut kereta, saya takutnya pada Allah, Coba aja, salah!

Jadi usaha, upaya itu sifatnya orang mukmin, Orang mukmin itu tidak ada takut pada manusia, etidak, Takut pada penyakit, etidak, Takutnya pada Allah yang memerintahkan, Allah yang memerintahkan kita itu untuk supaya waspada, Bukan takut dia, tapi takut pada Allah yang memerintahkan dia, itu takutnya mereka para orang mukmin, Di antaranya lagi :

لَا يَزْنِي الزَّانِي حِينَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ ؟ لاَ,

وَلَا يَشْرَبُ الْخَمْرَ حِينَ يَشْرَبُ الْخَمْرَ وَهُوَ مُؤْمِنٌ ؟ لاَ

Orang mukmin itu tidak bakal berzina, Orang mukmin itu tidak bakal minum khomr, Orang mukmin itu tidak bakal mencuri, Ketika dia mencuri, tidak bakal beriman, Kalau dia beriman, tidak bakal dia mencuri, Itulah mukmin, berarti suatu pencapaian, Bagaimana cara mencapai menjadi seorang yang beriman? Caranya adalah belajar, Oleh karenanya, Nabi SAW bersabda :

تَعَلَّمُوْا مِنَ الْمَهْدِ اِلَى اللَّحْدِ,

اطلبوا العلم من المهد إلى اللحد هذا ليس بصحيح، ولكن المعنى الجد في طلب العلم، والحرص على طلب العلم، والحديث غير صحيح.

Belajarlah kamu dari mulai dalam pangkauan ibumu sampai kamu berada di liang lahat,

Belajar! Yang pertama, Di dalam hadits lain Nabi SAW bersabda :

طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim” (HR. Ibnu Majah no. 224)

Riwayat Imam Muslim, Jadi, belajar ilmu itu hukumnya wajib bagi semua umat muslim,,

اُطْلُبُوْا الْعِلْمَ وَلَو بِالصِّيْن

اطلبوا العلم ولو بالصين، فإن طلب العلم فريضة على كل مسلم. إن الملائكة تضع أجنحتها لطالب العلم رضاً بما يطلب. قال عنه الإمام العراقي في تخريج أحاديث الإحياء: حديث اطلبوا العلم ولو بالصين أخرجه ابن عدي والبيهقي في المدخل والشعب من حديث أنس. وقال البيهقي: متنه مشهور وأسانيده ضعيفه.

Carilah ilmu walaupun di Negri Cina yang jauh, cari! Dari saking wajibnya,

Cari harta tidak perlu sampai jauh, tapi kalau cari ilmu walaupun di tempat jauh, harus cari, Cari istri tidak perlu tempat yang jauh, tapi kalau cari ilmu walaupun tempat jauh, kita harus cari, Kalau tidak ada tempat yang dekat, kita harus cari tempat yang jauh, Itu perintahnya Nabi SAW, Harus belajar, Tidak mungkin ada orang di angkat jadi wali, tapi dia itu bodoh dalam agama, tidak mungkin, Bahkan kalau seumpama harus, maka Allah Ta’ala itu akan mengajarinya ilmu agama, baru dia diangkat jadi wali,

مَا اتَّخَذَ اللهُ وَلِيًّا جَاهِلًا فَإِنْ كَانَ لَا بُدَّ مِنْهُ سَوْفَ يُعَلِّمُهُ ثُمَّ يَرْفَعَ وَلِيًّا,

Jadi Allah Ta’ala tidak mungkin mengangkat seorang wali dari orang yang bodoh, karena tahapannya, Lalu kemudian :

الَّذِيْنَ آمَنُوا, الَّذِيْنَ تَعَلَّمُوا الَّذِينَ دَرَسُوْا الَّذِيْنَ تَمَحَّدُوا الَّذِيْنَ تَرَبَّوْا

Mereka yang belajar, mereka yang muthola’ah, mereka yang duduk depan guru, mereka yang berusaha untuk mujahadah, itu yang pertama,

وَ كَانُوا يَتَّقُوْنَ,

Yang kedua mereka mengamalkan ilmunya, يتّقون itu artinya apa? Bertakwa, Bertakwa itu sifat, Ilmu sudah punya, Kita tahu ini halal, ini harom, Lalu takwa apa?

إِمْتِثَالُ أَوَامِرِاللهِ وَ إجْتِنَابُ نَوَاهِيْهِ,

Takwa itu adalah melaksanakan perintah Allah dan menjauhi segala larangannya, Perintah Allah apa saja? Larangan Allah apa saja? Tahu dia, Sekarang dia mau menerapkan, dan menerapkan itu namanya orang yang bertakwa, Tidak cukup beriman, Artinya dia tahu ilmunya, tapi dia tidak diterapkan, tidak mungkin beriman orang yang semacam itu, ‘Ilm dengan ‘Amal itu harus bersanding, tidak mungkin terpisahkan, Punya ilmu harus diamalkan, sebagaimana yang disampaikan oleh Al-Habib Abdullah Al-Haddad dalam kitabnya Nashoihuddiniyyah :

الْعِلْمُ يَهْتِفُ بِالْعَمَلِ فَإِنْ أَجَابَهُ وَ إِلَّا ارْتَحَلَ,

Yang namanya ilmu itu selalu menuntut para pelakunya itu, para pemiliknya itu untuk mengamalkan, Kalau diamalkan, maka keberkahan yang ia dapatkan, Tapi kalau tidak diamalkan, maka keberkahan ilmu itu akan lari darinya, Tapi kalau hafalannya masih ada, ilmunya masih ada tapi tidak ada barokahnya, itulah tahapannya,

Apa tahapan-tahapan menjadi waliyullah itu? Sebagaimana dijelaskan bahwasanya segala sesuatu hal harus ada tandanya, Dengan tanda itu kita tahu bahwasanya itu adalah sesuatu yang ada tanda-tandanya, Laki-laki dan perempuan ada bedanya, bedanya apa? Tanda, Orang alim sama orang yang tidak alim beda, apa bedanya? Tanda, Orang kaya sama orang yang tidak kaya, bisa dibedakan? Bisa, apa bedanya? Tanda, Jadi semua itu ada tandanya, Begitu pula para wali, ada tandanya, Cuma tandanya itu sangat abstrak dan samar karena ditegaskan sendiri oleh Nabi SAW :

إنَّ اللهَ أَخْفَى ثَلَاثًا فِى ثَلَاثٍ، أَخْفَى رِضَاهُ فِى طَاعَتِهِ وَأَخْفَى غَضْبَهُ فِى مَعْصِيَتِهِ وَأَخْفَى وَلِيَّهُ فِى عِبَادِهِ,

كلاماً منسوباً لسيدنا الإمام جعفر الصادق رضي الله عنه كما قيل ولا أعرف سنده : إن الله أخفى ثلاث في ثلاث: أخفى رضاه في طاعته وسخطه في معصيته وأولياءه في خلقه .

Sesungguhnya Allah menyembunyikan 3 hal dalam 3 hal, Allah mengerjakan ridho-Nya dalam semua pekerjaan taat, Bisa jadi ridhonya Allah Ta’ala itu ada pada suatu taat yang kita remehkan, Jadi bagaimana, Sayyidina Al-Imam Hasan Al-Bashri itu meninggal, dimimpikan oleh salah satu muridnya, ditanya, Ketika ditanya, “Bagaimana kau mendapatkan keadaanmu sekarang?”

“Alhamdulillah, dengan rahmat Allah mendapatkan kemuliaan”, Dengan apa? Dengan dakwahnya? Dengan mujahadahnya? Tidak, Ternyata dia itu mendapatkan kewalian, mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, mendapatkan kemuliaan di sisi Allah Ta’ala, karena sebab dua rokaat yang ia laksanakan pada malam hari, Bahkan diriwayatkan, karena sebab dia itu pernah masuk masjid, lalu dia mengambil kotoran-kotoran yang ada di masjid, maka karena itulah Allah rahmati dia,

Imam Ghozali juga pernah dimimpikan, ditanya bagaimana dia itu mendapatkan rahmat Allah Ta’ala, maka kemudian dijawab, “Kitab-kitabku semuanya tidak mengangkatku ke derajat Allah, memberikanku kemuliaan, Begitu pula dakwahku, ngajarku, dan sebagainya, Yang menyebabkan aku mendapat rahmat Allah, karena ketika aku menulis, saat itu aku melihat ada seekor lalat yang sedang menghirup dan meminum dari tinta yang akan aku tulis, Maka aku biarkan ia hinggap di penaku, dan aku menunggunya sampai dia kenyang untuk meminum dari tintaku tersebut”,

Nah ini, coba lihat bagaimana Imam Ghozali mendapatkan kemuliaan berupa rahmat Allah Ta’ala yang begitu besar, dari amal yang tidak kita sangka, Terus dapat kebaikan, Nah itu,

Lalu tandanya wali apa? Apa tandanya itu? Bukan harus ada karomahnya, Karena karomah itu juga ada pada orang kafir, juga ada, Karomah itu kan :

كُلُّ شَيْءٍ خَارِقٍ عَنِ الْعَادَةِ,

Segala sesuatu yang keluar dari nalar manusia, itu namanya Karomah, Memasukkan tangannya ke dalam kantong, keluar roti, Megang kertas, lalu berubah menjadi uang, Seperti Habib Sholeh Tanggul RA, Nah dia pernah suatu waktu, ada orang minta-minta, lalu dia bilang kepada cucunya, “Ambil nak, di kantong”, Diambil di kantongnya, etidak ada, kosong, Akhirnya apa katanya Habib Sholeh?

لَا تَفْتِنْ بَيْنِيْ وَ بَيْنَ اللهِ,

Jangan kamu fitnah antara diriku dengan Allah, Maka dia itu keluar, diambil sendiri, “Ini buktinya, kamu bilang gak ada”, Orang tadi dicari-cari sampai dikeluarkan isinya, tidak ada, Tapi begitu dicari Habib Sholeh, langsung isinya ada,

Ada lagi satu orang, namanya Dzinnun Al-Mishri, Kenapa dikatakan Dzinnun Al-Mishri? Karena setiap ada orang minta doa kepada beliau, maka ditulis ‘Nun’, lalu dimasukkan ke dalam air, diminum, sembuh, kabul hajatnya, Akhirnya apa? Senang mereka,

Pernah suatu waktu, ada seorang datang kepadanya, minta, Nunggu-nunggu, tidak keluar-keluar, Akhirnya apa? Karena muridnya tahu yang ditulis itu adalah ‘Nun’, maka ditulis ‘Nun’, Tidak seperti ‘Nun’nya si Wali itu, Bahkan ‘Nun’nya besar sekali, Akhirnya dikasih, masukkan air, mati orangnya,

Akhirnya apa yang dikatakan oleh Dzinnun? Bukan ‘Nun’nya, Yang berfaedah itu bukan ‘Nun’nya, tapi yang menuliskan ‘Nun’ itu, Bisa jadi bacaannya sama, tapi yang mengucapkan siapa? Yang berkehendak siapa? Kehendaknya itu bersinergi dengan kehendak–Nya Allah Ta’ala, Itulah yang menjadikan kabul hajatnya,

Pernah suatu waktu, Habib Sholeh ini dan beliau itu ada satu orang di satu kampung ya, di Jember sana, mereka itu kena kayak wabah seperti sekarang ini, Dan sangat berbahaya sekali, Kalau kena itu, langsung mati, Akhirnya apa? Setiap orang yang kena sakit itu mendatangi Habib Sholeh, minum airnya Habib Sholeh, sembuh,

Akhirnya dengar yang sakit ke Habib Soleh sembuh, ternyata banyak yang sakit akhirnya datang semua, satu kampung, Satu kampung yang datang truk-trukan, banyak, Akhirnya kata beliau, “Ada apa?” “Mau minta air”, ‘Semuanya udah tidak usah, itu aja ini ditulis di kertas, lalu masukkan ke sungai di tempat kalian itu, lalu minum airnya, minum Insya Allah sembuh”,

Akhirnya apa? Yang minum dari air sungai itu, yang kena penyakit itu semuanya sembuh, Penasaran ini, Akhirnya apa? Jimatnya itu dilihat, apa sih isinya? Kok bisa hebat ini sampai air minum yang diminum, yang dibacai oleh Habib Sholeh? Ternyata di situ tertulis ‘Selamat jalan penyakit, Selamat jalan penyakit,’ Coba kita tulis, ‘Selamat jalan penyakit’, bisa tidak jadi jimat, Bukan jimatnya, Bukan tulisannya, Tapi yang menulis siapa,

Nah itu waliyullah, Jadi karomah bukan tanda kalau itu Wali Allah, Iya itu kebetulan tentang Habib Sholeh, seorang waliyullah, Nah karena apa? Orang kafir juga bisa seperti itu, Orang kafir bisa terbang, Yang non-Islam pun dia juga bisa melihat, artinya orang kayak kasyaf lah gitu, Nah, itu bukan tandanya Wali, Oleh karenanya, disebutkan di dalam sebuah syair disebutkan :

إِذَا رَأَيْتَ رَجُلًا يَطِيرُ، أَوْ فَوْقَ الْمَاءِ قَدْ يَسِيْرُ، فَلَمْ يَكُنْ مُتَّبِعًا لِلرُّسْلِ، فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ أَوْ بِدْعِي,

Yang artinya, “Barang siapa yang melihat seseorang itu terbang di atas udara, atau berjalan di atas air, jangan buru-buru kita katakan, ‘Ini Wali Allah’”,

Tidak lihat dulu bagaimana itu ittiba’nya dengan Nabi Muhammad SAW, lihat dulu bagaimana dia itu melaksanakan dengan kewajiban-kewajibannya, menjauhi larangan-larangannya, melaksanakan dan menerapkan sunnah-sunnah Nabinya, Kalau dia itu melaksanakan itu semuanya, nah maka dia itu wali, Tapi kalau kita lihat ada orang terbang, berarti dia itu wali, belum tentu, Ada orang, jalan di atas air, belum tentu, Karena apa? Yang bukan Islam pun juga bisa,

فَإِنَّهُ مُسْتَدْرَجٌ أَوْ بِدْعِي,

Jadi yang menjadi pertanda yang paling utama, adalah dia itu ahli Istiqomah, Itu yang pertama, dia adalah ahli Istiqomah, Tidak ada wali itu kemudian maksiat atau senang maksiat, Wali itu memang mahfudz ya, bukan ma’shum seperti Nabi, Mereka itu cuma terjaga, dijaga oleh Allah Ta’ala, Tapi tidak ada pas kesenangan itu maksiat, walaupun kita diperintahkan untuk husnudzan,

Yang kedua, tandanya yang kedua :

إِذَا رُؤُوْا ذُكِرَ ا لله

ُحديث (إنَّ خيارَ عبادِ الله الذين إذا رُأُوا ذُكِرَ الله) رواه الإمام الحافظ ابنُ عساكر في تاريخ دمشقَ بالإسنادِ.,

Jika kita melihatnya, kita langsung ingat kepada Allah, Kalau kita berada di dekatnya, tidak terlintas dalam hati kita untuk berbuat maksiat kepada Allah, Nah itu yang kedua itu, setiap kali saya berada di depannya, di sampingnya, di dekatnya saya selalu ingat kepada Allah, nah itu Wali Allah,

Nah, tidak ada pertanda lain bagi seorang waliyullah, Pertandanya itu hanya dua, Dia seorang waliyullah atau bukan, itu hanya dua, yaitu dia itu istiqomah di dalam melaksanakan syariat ini, dan setiap kali dilihat, maka yang terlintas dan diingat adalah Allah, Berarti dia itu adalah seorang wali Allah, Tapi kalau tanda-tanda yang lainnya, tidak menentukan dia seorang wali Allah atau tidak, Karena di luar kaum muslimin, mereka juga bisa seperti itu,

Nah, oleh karena itu, hadirin yang dimuliakan oleh Allah Ta’ala, Semoga kita termasuk mendapatkan keberkahan daripada seorang wali, Nah, lalu apa yang harus kita lakukan kalau kita dekat dengan seorang wali? Ini orang Masya Allah, Jadi Wali itu yang paling tinggi itu bukan karomahnya itu bikin kue, atau ada kue atau bikin rumah sehari semalam, bukan, Jadi karomah wali yang paling besar adalah setiap orang datang kepadanya, berubah, Setiap orang diajak ngomong olehnya, berubah, Setiap orang dinasehati, berubah, Nah itu adalah karomah yang paling tinggi, Dan itu menunjukkan derajat yang sangat tinggi di sisi Allah Ta’ala, Merubah seseorang dari keadaan tidak baik menjadi keadaan yang lebih baik,

Oleh karena itu, apa yang harus kita lakukan kalau kita itu berjumpa dengan seorang wali? Atau kita itu melihat wajahnya kita mengingat kepada Allah, dia ahlu Istiqomah, Yang harus dilakukan adalah perbaiki niat, Kita bersihkan diri kita daripada dosa, Karena mereka itu termasuk yang mana, kalau kita mendekat kepada raja, kepada presiden, kepada para pejabat, maka jagalah lisanmu, Tapi kalau kita berada di depan para wali, maka jagalah hati, karena mereka itu adalah kassyaful qulub, Mereka itu bisa melihat bersih hati berkat pemberitahuan daripada Allah SWT kepada mereka itu,

Oleh karena itu kita berdoa kepada Allah Ta’ala, semoga kita ini termasuk yang bukan hanya mendengar, tapi juga mengalaminya Insya Allah, Kalau bukan kita, keluarga kita Insya Allah, Sehingga kita termasuk yang diangkat oleh Allah Ta’ala derajatnya kelak nanti setelah kita meninggal dunia, kelak nanti setelah kita di padang mahsyar, kelak nanti setelah kita itu akan melewati shirath, kelak nanti setelah kita itu akan masuk surga-Nya, termasuk surga yang paling tinggi Jannatul Firdaus Al-A’la, bertetangga dengan Nabi Muhammad SAW, Aamiin Yaa Rabbal ‘aalamiin, Al Fatihah,

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *