Cara Prasangka Baik Menjadi Doa

  • Whatsapp

Pembahasan kali ini, kita akan membahas bagaimana Allah melaksanakan dan mengimplementasikan doa itu kepada yang berdoa supaya kita tidak su’udzon kepada Allah Ta’ala, Karena kita dituntut dan diperintahkan untuk sama sekali tidak pernah su’udzon kepada Allah Ta’ala, Bahkan kalau kita sudah su’udzon kepada Allah Ta’ala, berarti itu adalah sebuah petunjuk bagi kitam bahwasanya kita termasuk orang yang tidak akan bahagia dunia dan akhirat, Karena Dzat yang paling pantas untuk kita husnudzon kepada-Nya adalah Allah, dan Dzat yang paling tidak pantas untuk kita su’udzon kepadanya adalah Allah pula, Oleh karenanya, Al Habib Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus RA, beliau berkata :

خَصْلَتَان لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ مِنَ الخَيْرِ، حُسْن الظنِّ بِاللهِ، وَحُسْنُ الظَّن بِعِبَادِ اللهِ، وَخَصْلَتَانِ لَيْسَ فَوْقَهُمَا شَيْءٌ مِنَ الشّرِّ: سُوْءُ الظَّن بِاللهِ، وَسُوْءُ الظّنِّ بِعِبَادِ اللهِ

Ada dua hal yang tidak lebih baik daripada keduanya, Lebih baik daripada sabar, lebih baik daripada ibadah, lebih baik daripada semua hal, yaitu berprasangka baik kepada Allah dan berprasangka baik kepada hamba-hamba Allah, Dan tidak ada yang lebih jelek daripada dua hal, yaitu berprasangka buruk kepada Allah dan berprasangka buruk kepada hamba-hamba Allah,

Banyak di antara kita, mohon maaf, yang salah persepsi memahami hal ini, disangkanya ini adalah sesuatu yang remeh, tidak, ini sesuatu yang besar, karena semua yang berlaku di muka bumi ini maupun di atas langit sana, di dunia ini maupun di alam mahsyar nanti, begitu pula di akhirat kelak, itu semuanya berada di tangan Allah.

Apa yang kita inginkan, apa yang kita harapkan semuanya berada di tangan Allah, Apa yang kita tunggu dan apa yang kita nanti-nantikan juga berada di tangan Allah, Apa yang kita khawatirkan dan apa yang kita takutkan, juga ada di tangan allah, sehingga kita su’udzon atau husnudzon kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan tetap memberlakukan apapun yang menjadi kehendaknya, Maka dari itu, ketika sahabat Nabi mendapatkan sebuah sabda Nabi SAW yaitu hadits qudsinya yang diriwayatkan langsung oleh Nabi SAW, yaitu firman Allah Ta’ala di dalam hadits qudsi

أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي فاليظن بما شاء

Aku berada di dalam persangkaan hamba terhadap-Ku,  (HR. Ahmad)

Kalau sudah kalian tau itu semua, silahkan berprasangkalah apa saja kepada Aku, maka aku akan realisasikan persangkaan itu untuk kalian, Sahabat berkata bahwasanya ini termasuk suatu kabar gembira yang besar, bonus yang sangat agung bagi umatnya Nabi Muhammad SAW, walaupun kita banyak dosa, allah tidak akan merasa bahaya dengan dosa kita, walaupun kita sedikit amal, allah tidak perlu dengan amal kita, walaupun kita telah melakukan dosa-dosa yang besar, walaupun kita termasuk orang yang membuat murka Allah Ta’ala, tapi asalkan kita mempunyai keyakinan di dalam hati kita yang keyakinan itu prasangka yang baik itu dalam hati kita, itu tidak terlaksana kecuali Allah yang berkehendak.

Berprasangka baik kepada Allah, Allah akan ampuni dosa-dosa kita, Allah akan menggantikan segalanya dengan kenikmatan dan anugerah, maka Allah akan memberikan itu semuanya kepada kita.

Oleh karenanya, dikatakan oleh Habib Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus lebih baik daripada semua kebaikan yang ada adalah berprasangka baik kepada Allah, Kenapa?

Begini, ada satu orang, dia itu menyangka kita ini orang baik, dia itu menyangka bahwasanya kita ini adalah seorang yang bangun malam, dia itu menyangka bahwasanya kita ini adalah orang yang banyak shalatnya banyak dzikirnya, Begitu dia datang yang disangka itu bertanya kepadanya, “Kenapa kamu itu datang ke saya? Apa yang kamu pikirkan terkait dengan saya?” Maka dia katakan, “Iya, aku datang kepadamu karena aku tahu bahwasanya kamu orang baik, orang yang banyak sholatnya, orang yang suka bangun malam, orang yang suka baca Al-Qur’an”,

Ketika disebutkan yang semacam itu, disebutkan baru tahu, tapi Allah Ta’ala tanpa disebutkan sudah tahu, maka sulit sekali untuk orang yang dikatakan dan disangka demikian, kemudian dia itu akan berlawanan seperti yang disangkakan kepada dirinya itu, kalau itu dialami, dimiliki, disifati oleh seorang manusia, bagaimana dengan Allah SWT?

وَ هُوَ أَرْحَمُ الرَّاحِمِيْنَ, وَ هُوَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِيْنَ, وَ هُوَ الْجَبَّارُ وَ هُوَ الْغَفُوْرُ وَ هُوَ الرَّحِيْمُ,

Kalau itu standar pikiran kita, nalar kita, pengalaman kita terkait dengan manusia tentunya seperti itu, bagaimana terkait dengan Allah Ta’ala yang menciptakan lintasan kebaikan, yang menciptakan karakter berbudi dan berakhlakul karimah, yang menciptakan orang-orang yang baik, begitu pula yang menciptakan orang yang buruk? Bagaimana mungkin kemudian Allah Ta’ala menyalahi diri sendiri? Itulah dahsyatnya husnudzon kepada Allah SWT,

Oleh karena itu, supaya tidak su’udzon kepada Allah Ta’ala yang itu justru merugikan, su’udzon kepada manusia aja rugi, apalagi sampai su’udzon kepada Allah, Su’udzon kepada manusia rugi, karena terkait dengan ikon, ikon itu terkait dengan Allah, Tapi kalau su’udzon kepada Allah, langsung tidak pakai ikon lagi, langsung pada Allah, ya rugi dia dong, harusnya kita husnudzon, Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Nawas di dalam qasidahnya yang selalu kita baca habis sholat Jum’at :

إِلهِي لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً # وَلاَ أَقْوَى عَلىَ النَّارِ الجَحِيْمِ

فَهَبْ ليِ تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبيِ # فَإِنَّكَ غَافْرُ الذَّنْبِ العَظِيْمِ

Ya Rabb, aku memang tidak pantas masuk surga dengan amalku, Aku tidak ada amalnya, tapi aku juga tidak kuat masuk neraka, tapi aku yakin Engkau itu adalah pengampun dosa,

Ini husnudzon namanya, masa iya orang yang semacam itu pengakuannya, lintasan pikirannya, kemudian Allah Ta’ala itu akan mengelak dan kemudian mengeles misalnya, atau kemudian dia itu tidak sesuai dengan anggapan daripada hamba tersebut padahal yang memberikan lintasan untuk supaya dia menganggap seperti itu adalah Allah sendiri.

Oleh karenanya begini, kita berdoa kok belum dikabulkan juga ya, kita berdoa sambil kita meminta-minta, memohon-mohon, menangis-nangis sampai tetesan air mata sudah banyak kita lakukan, tapi kenapa tidak dikabulkan juga? jangan su’udzon kepada Allah karena Nabi Muhammad menjelaskan kepada kita implementasi daripada doa, realisasi daripada doa itu dikabulkan untuk hamba-nya, itu bukan cuma satu pertimbangan atau satu kenyataan atau satu realita, minta langsung dikasih dan dikabulkan doanya kalau tidak begitu berarti tidak dikabulkan doanya? salah, Jangan menduga yang tidak-tidak kepada Allah Ta’ala, Asalkan kita telah memenuhi syarat.

Ingat kan Allah Ta’ala itu lebih paham, Allah Ta’ala itu lebih tahu, Allah Ta’ala itu lebih meliputi keilmuannya ketimbang keilmuan kita, karena Allah itu bermuamalah kepada kita melebihi daripada muamalahnya Nabi Muhammad kepada umatnya, melebihi daripada muamalah orang tua kepada anaknya, melebihi daripada muamalah seorang suami kepada istrinya, begitu pula sebaliknya.

Coba lihat, misalnya anak saya dia minta belikan motor, umurnya masih umur 5 tahun dan saya kasih, Kalau saya kasih berarti saya tidak sayang? Lalu kita akan su’udzon kepada Allah Ta’ala? Kita tidak tahu kalau doa itu dikabulkan itu menjadi madhorot atau manfaat buat kita, kita tidak tahu,

Oleh karena itu, kata Nabi SAW adakalanya doa itu dikabulkan langsung seperti yang dimintanya, minta jodoh, langsung datang jodoh, minta mobil, langsung datang mobil, minta uang, langsung datang uang, itu bukan mustahil dan bisa terjadi, bahkan sudah banyak terjadi seperti itu, yang kedua, allah akan beri tapi bukan sekarang, tapi nanti tunggu saat yang tepat, Ya Allah rumahku, kenapa kok belum laku juga, ya Allah ya Allah ya Allah, ternyata ada hikmahnya, hikmahnya apa?.

Ternyata rumah yang dibangunnya, ada yang bantu, sampai sudah selesai, rumahnya baru laku, jadi segepok deh dapet uangnya, tidak kurang sama sekali maksudnya dijual untuk ini, eh tidak taunya Allah tahu, Allah paham kapan harus terjual, kapan harus dikabulkan doanya, Allah tahu.

Tapi kita sebagai seorang manusia, kita wajib berikhtiar, di antara ikhtiar kita itu adalah melaksanakan himbauan, anjuran dan perintah Allah sendiri pada kita semuanya :

ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

Mintalah kepada-Ku,  Maka aku akan kabulkan untuk kalian (Al Ghafir; 60)

Tambah banyak orang meminta, tambah Aku senang kepadanya, sebagaimana dijelaskan semalam bahwasanya tingkat keimanan kita diukur dengan tingkat sebatas berapa banyak kita berdoa, mau naik mobil, doa dulu, turun dari mobil, doa dulu, masuk kamar mandi, doa dulu, keluar kamar mandi, doa dulu, mau wudhu, doa dulu, habis wudhu, doa dulu, habis ngaji, doa dulu, mau tidur, doa dulu, bangun tidur, doa dulu, mau makan, doa dulu, habis makan, doa dulu, mau minum, doa dulu, habis minum, doa dulu, ini orang mukmin.

Tambah banyak doa, tambah banyak keimanannya, tambah banyak doa, tambah disayang sama Allah Ta’ala, ibaratnya orang yang berdoa itu adalah orang yang bermanja-manja kepada allah, jadi jangan kita berdoa yang penting harus dikabulkan, kalau tidak dikabulkan berarti allah tidak sayang pada kita, salah, allah ingin bukti kepada kita, mana sifat manjamu pada-Ku, mana sifat husnudzonmu pada-Ku, Ayo minta terus, aku akan janjikan, dan allah janjinya :

إِنَّ الله لا يُخْلِفُ الْمِيعَادَ

Allah tidak pernah luput daripada apa yang dijanjikannya, (Ali Imron; 9)

Allah pasti menepati janji, tapi Allah lebih tahu, itu yang kedua, kadang-kadang diakhirkan bukan sekarang saatnya, tunggu sampai datang waktunya, akan diberikan oleh Allah Ta’ala.

Yang ketiga, Allah sengaja tidak kabulkan doanya, untuk apa? supaya menjadi sebab dosanya itu diampunkan, dia kan perasaan kok belum dikabulkan doanya, doa lagi ah, doa kan artinya ibadah, ibadah itu pahala, ibadah itu ridho, tambah banyak pahala, otomatis dosanya tergerus.

إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ

Hasanah yang kita lakukan itu akan menghilangkan sayyiat kita, (Al Hud; 114)

Terus kita berdoa tambah pahala, tambah doa tambah lagi pahalanya, tambah lagi berdoa tambah lagi pahalanya, sayyiatnya terus tergerus, itu di antara Allah Ta’ala tidak mengabulkan doa.

Yang keempat, Allah kabulkan doanya tapi bukan di dunia, kelak nanti di akhirat, Sebagaimana diceritakan Nabi kita Muhammad SAW dalam sebuah hadits, bahwasanya nanti tatkala kita berada di padang mahsyar setelah hari hisab, semuanya akan ditampakkan, Berapa pahala kita ditampakkan, berapa dosa kita juga ditampakkan, Dosa daripada dosa apapun yang kita lakukan akan ditampakkan, sebagaimana pahala dari segala macam ibadah apapun yang kita lakukan juga akan ditampakkan.

Ada labelnya, ini pahala shalatmu, ini pahala kamu membantu orang lain, ini pahala shodaqohmu, ini pahala kamu menyenangkan orang lain, ini pahala kamu bakti pada orang tua, semuanya ada, tapi ada pahala paling besar itu justru tidak ada labelnya, sehingga dia bertanya pada Allah, “ya rabb, itu pahala apa yang kau berikan padaku?” apa jawaban Allah ta’ala? “itu pahala doamu yang tidak aku kabulkan”, Apa jawaban hamba itu dan apa angan-angannya, yang seandainya angan-angannya itu terlaksana pada saat itu maka alangkah senangnya dan gembiranya serta bahagianya dia, apa katanya? “ya rabb, andai saja mulai pertama kali aku berdoa sampai aku meninggal, tidak ada satupun doa yang dikabulkan”.

Coba lihat, andai saja dari semenjak aku pertama kali berdoa sampai aku selesai, aku meninggal dunia tidak ada satupun doa yang dikabulkan oleh-Mu, Ya Rabb, Alangkah senangnya aku sekarang ini, Karena apa? berbentuk pahala dan di situ sangat diperlukan, tidak penting lagi pada saat itu kalau dikabulkan di dunia berupa apa, berupa kesenangan sementara, semua yang di dunia akan fana, tapi di akhirat akan abadi selama-lamanya, jadi jangan su’udzon pada Allah Ta’ala, terus berdoa, jangan bosan, Nabi SAW bersabda :

إنَّ الله لاَ يَمَلُّ حَتَّى تَمَلُّوا

Allah tidak akan bosan kepada kalian sampai kalian sendiri bosan, (Al Bukhari)

Jadi Allah Ta’ala itu bagaimana tergantung pada kita, kita yakin Allah akan berikan, kita tidak yakin Allah akan pending, tetap allah akan berikan karena allah itu adalah Maha Roozaq, Maha Pemberi, Allah Ta’ala Maha Rohman, Tidak ada yang bisa mengalahkan rohman-Nya Allah Ta’ala,

Tapi sebenarnya doa itu adalah sebuah ujian bagi kita, bagaimana kita menggunakan media itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, oleh karenanya, kita pagi baca wirdhul lathif, sore baca wirdhul lathif lagi, nanti habis maghrib, baca ratib haddad, habis isya’, baca ratib al athos, baca hizib bahr, baca hizib nawawi, baca wirid sakron, semua itu adalah doa.

Oleh karenanya, resapi supaya kita benar-benar di dalam kita membaca wirid itu, Allah peruntukan untuk kita ibadah yang sesungguhnya, karena Nabi SAW tidak pernah mengatakan :

الصَّلَاةُ مُخُّ الْعِبَادَةِ, الْحَجُّ وَ الْعُمْرَةُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Tapinya yang dikatakan Nabi SAW :

الدُّعَاءُ مُخُّ الْعِبَادَةِ

Doa itu adalah intisari daripada ibadah, (Al Bukhari)

Yang dituju dari sholat kita, puasa kita, zakat kita, shodaqoh kita, haji kita, umroh kita itu doa, Sehingga waktu kita baca wirdhul lathif, kita simak kira-kira mana ya artinya sehingga nikmat kita baca, tapi kalau sekedar baca aja, akhirnya ketiduran karena kita tidak berusaha memaknai, hati kita tidak hadir, hadirkan hati kita, eman, itu adalah suatu kenikmatan yang luar biasa,

Apalagi kalau shalat subuh berjamaah, kemudian kita tidak berubah tempat duduk kita, lalu kita baca wirdhul lathif, Setelah baca wirdhul lathif, kita baca wirid sakran, Setelah kita baca wirid sakran, kita baca Yaasin, Setelah kita baca Yaasiin, kita baca sholawat Al Busyro, sholawat daf’ul bala’, kemudian kita baca lailahaillallah huwal malikul haqqul mubiin sebanyak 100 kali, Baca Yaa Kaafi, Yaa Mughni, Yaa Fattah, Yaa Razzaaq seperti wirid yang biasanya kita baca setiap hari, Satu jam pas selesai, isyroq sudah, Kita shalat 2 rokaat, shalat sunah isyroq atau digabung shalat dhuha, shalat hifid ‘an jamii’issyurur fiiddin wa dunyaa wal akhiroh, sunnah taubah, sunnah istikhoroh,

Kata Nabi muhammad, yang melakukan itu, maka selesai dia mengucapkan salam dan berdoa, langsung Allah tuliskan untuknya pahala haji yang mabrur, haji yang mabrur, haji yang mabrur, sampai tiga kali Nabi Muhammad menjelaskannya, Apalagi pas kita artikan, kita hadiri maknanya,

Misalnya,

يَا فَارِجَ الْهَمِّ يَاكَاشِفَ الْغَمِّ, يَا مَنْ لِعَبْدِهِ يَغْفِرُ وَ يَرْحَمُ

Wahai Dzat yang menghilangkan segala macam kesumpekan, wahai Dzat yang menyingkap segala macam kesusahan, wahai Dzat yang selalu mengampuni dan mengasihi, Ketika dia berdoa dia meminta kepada Allah Ta’ala :

أَعُوْذُ بِكَلِمَاتِ اللهِ التَّامَةِ مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ

Aku berlindung kepada-Mu Ya Rabb, dengan kalimat-Mu yang sempurna dari segala makhluk-Mu yang membahayakan kepada diriku, Minta kepada Allah semuanya,

بِسْمِ اللهِ الَّذِيْ لَا يَضُرُّ مَعَ اسِمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ, اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فُجَاءَةِ الْخَيْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فُجَاءَةِ الشَّرِّ, اللّهُمَّ أَنْتَ رَبِيّ لَا إِلهَ إِلاَّ أَنْتَ وَ أَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَ وَعْدِكَ

Kita minta terus, luar biasa ini, Kemudian setelah kita itu tahu bagaimana realisasi daripada doa yang Allah kabulkan, bolehlah kita itu membicarakan terkait dengan kapan kita berdoa? Apakah ada waktu-waktu tertentu untuk kita berdoa? Jawabannya adalah tidak ada, Semua waktu kita gunakan untuk berdoa, Itu yang diperintahkan, Karena Allah memerintahkan :

ادْعُوْنِي أَسْتَجِبْ لَكُم

Kapan? tidak disebutkan malam, siang, setelah shalat, sebelum sholat, setiap saat baca berdoa kepada Allah, Tambah banyak doanya, tambah senang Allah Ta’ala, Akan tetapi, ada pada waktu-waktu tertentu di mana pada waktu-waktu tersebut kalau kita berdoa lebih bisa memantik ridho-Nya, lebih bisa memberikan pahalanya, lebih bisa menyampaikan kepada derajat yang tinggi di sisi-Nya, kapan itu?

Di antaranya adalah sebelum kita itu beramal, sebelum beramal sholeh, kita berdoa, yang memberikan lintasan siapa? berapa banyak yang shalat etidak sampai rampung shalatnya selesai, dia keluar dari shalatnya, lalu kita tidak berdoa? berdoa, setelah rampung, shalatnya berdoa, bersyukur kepada allah ta’ala, sudah selesai,

Mau belajar? berdoa, ingat kan para santriwati kalau belajar gimana? kita baca doa dulu.

اللّهُمَّ إِنَّ نَسْأَلُكَ عِلْمَ لَدُنِّي,

Jadi sebutkan, habis taklim, baca doa lagi, itu sunnah, Mau baca Al-Qur’an doa, habis baca Al-Qur’an doa lagi, Jadi doa itu bukan ketika kita memerlukan kepada pertolongan Allah,

Lihat nabi muhammad saw berpesan kepada sahabat sekaligus misanannya sayyidina abdullah bin Abbas :

تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ, يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّةِ

Hendaknya kamu itu berusaha tahu dengan Allah Ta’ala ketika kamu itu dalam keadaan senang, maka niscaya Allah Ta’ala akan mengenalmu ketika kamu dalam keadaan susah, (At Tirmidzi)

Artinya apa? bagaimana kita itu berusaha menyodorkan diri untuk mengenal kepada Allah ta’ala di saat-saat kita bahagia, ya berdoa supaya nikmat yang diberikan itu jangan dicabutnya bahkan ditambah, diberkati sehingga dia dapat menikmatinya, ketika datang kesusahan, berdoa lagi.

Oleh karenanya, ulama’ berkata kenapa harus ada kesusahan? karena nanti ketika kita senang, tidak berdoa, jadi kita senang lalu lupa kepada Allah Ta’ala, seakan-akan ini hasil jerih payahku, ini karena aku yang berusaha, dia sudah lupa bahwasanya allah yang memberikan, berapa banyak orang yang ingin menjadi seperti kita? kita punya mobil, apakah orang itu etidak pingin punya mobil? tanya, bikin survey dimana-mana, mana ada orang yang tidak mau punya mobil, semua orang pingin punya mobil, tanya sedesa, sekota, senegara, ada yang tidak mau punya rumah? kalau rumah sudah disodorkan dan siap untuk dibagikan padanya, adakah di antara mereka yang tidak mau punya rumah yang bagus? semuanya pingin punya rumah, semuanya ingin rumahnya bagus, tapi kenapa kok mereka tidak dapet, cuma kamu yang dapet?.

Berarti apa? Allah yang berkehendak, mereka semua berkeinginan, mereka semua mempunyai lintasan untuk mendapatkannya, bahkan mereka sudah berusaha tapi tidak dapat, apakah itu bukan nikmat dari Allah Ta’ala untuk kamu? hanya kamu yang diberikan, kamu yang ditentukannya, tidak mau bersyukur kepada Allah Ta’ala?.

Kemudian di antaranya kita berdoa ketika sujud, Ingat kan bagaimana haditsnya Nabi SAW :

أَقْرَبُ مَا يَكونُ العبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ ساجدٌ

Paling dekatnya seorang hamba kepada Allah ketika dia bersujud, (HR. Muslim)

Camkan maknanya, renungkan artinya, resapi hakikatnya, luar biasa terlaksananya di dalam keimanan kita dan ketakwaan kita.

Siapa sih yang tidak ingin dekat dengan presiden? Siapa sih yang tidak ingin dekat dengan seorang ulama besar? Siapa sih yang tidak ingin dekat dengan orang yang sholeh? Siapa sih yang tidak ingin dengan dengan orang yang dicinta? Tapi semuanya itu untuk kita mendekati presiden, orang sholeh, orang wali, orang alim, orang yang di-idolakan susah, banyak hambatan, tapi Allah Ta’ala Dzat Yang Maha Mulia yang menciptakan itu semuanya yang menciptakan presiden, yang menciptakan orang wali, yang menciptakan orang sholeh, yang menciptakan idola kita, yang menciptakan orang yang kita cinta.

Dia-lah yang mengatakan :

أَقْرَبُ مَا يَكونُ العبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ ساجدٌ

Paling dekatnya seorang hamba bersama Tuhannya adalah ketika sujud, Ketika bersujud kesempatan buat kita, curhatkan semuanya, curahkan semuanya, tumpahkan semuanya, kita sharing kepada Allah, kita mengadu kepada Allah, lalu kita berdoa kepada-Nya, kalau bisa kita menangis kepada-Nya di saat itu kita sujud, Justru ketika kita hina, di saat itulah kita akan mendapatkan Allah, Itu adalah waktu yang paling istimewa untuk kita berdoa.

Kemudian, di antaranya adalah ketika turun hujan karena itu adalah rahmat Allah, rahmat Allah dengan hujan itu yang diturunkan berapa banyak, yang tadinya tanaman tidak tumbuh, menjadi tumbuh, berapa banyak tanaman itu yang memakannya, rahmat Allah berapa itu yang dibagikannya, Justru ketika turun rahmat Allah itu, kita berdoa, barang kali doa kita itu akan diijabahkan beriringan dengan rahmat yang diturunkan.

Ketika antara adzan dan iqomah berdoa, karena Nabi Muhammad SAW bersabda bahwasanya di antara doa yang tidak akan ditolak adalah berdoa ketika antara adzan dan iqomah.

Ketika bangun malam, berdoa, Kapan bangun malam itu? dari mulai pertengahan malam, itu termasuk yang dikabulkan, bahkan di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Mahaguru kami, Profesor Doktor Sayyid Muhammad Al Maliki rohimahullah rohmatal abror, di kitab Syaroful Ummah Al Muhammadiyah, setiap malam Allah Ta’ala itu turun di muka bumi, Rahmat-Nya lebih dekat, lebih mencurahkan lagi, lebih meluaskan lagi pemberian-Nya dan anugerah-Nya kepada hamba-hamba-Nya.

Kapan itu? setiap sepertiga malam yang terakhir, kalau sudah masuk sepertiga malam yang terakhir, turun Allah ke langit bumi, lalu Allah Ta’ala menyodorkan dengan suaranya :

هَلْ مِنْ طَالِبٍ فَأَقْضِيْهَا لَهُ, هَلْ مِنْ مُسْتَغْفِرٍ فَأَغْفِرَ لَهُ, هَلْ مِنْ تَائِبٍ فَأَتُوْبَ عَلَيْهِ

Apakah ada yang berdoa sekarang, akan Aku kabulkan hajatnya, Apakah ada yang mau minta ampun sekarang, Aku akan ampunkan dosa-dosanya, Apakah ada yang mau bertaubat sekarang, Aku akan berikan tobatnya dari dosa yang bagaimanapun juga, (HR.Muslim)

Mana meraka yang akan bertobat kepada-Ku? dari rahmat-Nya Allah Ta’ala itu sampai menyodorkan diri, Allah yang menyodorkan, bukan kita.

إِن الله تَعَالَى يبْسُطُ يدهُ بالنَّهَارِ ليَتُوبَ مُسِيءُ اللَّيْلِ

(HR. Muslim)

Jadi Allah Ta’ala setiap pagi menyodorkan tangan-Nya, membentangkan tangan-Nya, apakah ada yang mau bertobat dari orang-orang yang berdosa pada malam hari, ketika malam, Allah ta’ala juga menyodorkan dan membentangkan tangan-Nya, apakah ada yang mau bertobat daripada mereka-mereka pelaku dosa pada siang hari, Alangkah beruntungnya kita dengan Dzat yang Maha Luar Biasa,

Tapi apa jawaban kita? di setiap sepertiga malam Allah Ta’ala menyodorkan, Apakah ada yang mau berdoa kepada-Ku, adakah yang mau meminta ampun kepada-Ku, adakah yang mau bertobat kepada-Ku, eh ternyata kita jawab dengan ngorokan, tidur dan tidur.

Padahal Allah Ta’ala setiap hari mengingatkan kita :

الصَّلَاةُ خَيْرٌ مِنَ النَّوْمِ,

Sholat itu lebih baik daripada tidur, padahal kita tahu, tapi kenapa kita tidak bangun malam? kita tidak memplanningnya, kita tidak menjadwalkannya, kita tidak ada kemauan, kalau ada kemauan, tidak mungkin akan ditinggalkan.

Lihat bagaimana Al-Habib Abdullah bin Umar bin Yahya, beliau katakan, “Demi Allah, kalau bukan karena dua hal, lebih baik aku mati dan tidak hidup di dunia ini”, Apa dua hal itu?

لَوْ لَا لِقَاءُ الأَحْبَابِ,

Kalau bukan karena aku bertemu dan berjumpa dengan para kekasih, mereka-mereka yang mencintai aku dan aku cintai dia, itu yang pertama, yang kedua, “kalau bukan karena bangun malam, maka niscaya aku tidak suka di dunia, tidak betah di dunia ini”, wali yang lainnya mengatakan demikian, kalau seumpama raja-raja, presiden-presiden itu tahu dengan apa yang kita rasakan ketika kami bangun malam, niscaya mereka akan memerangi kita karena mereka iri dengan apa yang kita rasakan”.

Al-Habib Hasan bin Sholeh Al Bahr beliau mengatakan :

لَا الْحُرُّ وَلَا قُصُور وَلَكِنْ رِضَا رَبِّ الْغَفُوْر,

Bukan bidadari yang aku inginkan dengan shalatku, dengan mujahadahku, Habib Sholeh bin Hasan Al-Bahr, yang setiap selesai sholat isya beliau melaksanakan shalat dua rakaat, rakaat pertama dia khatamkan Al-Qur’an sampai habis, rakaat kedua dia baca al-ikhlas sebanyak 90,000 kali, bukan sekali waktu, tapi setiap malam dia lakukan itu, sehingga lihat bagaimana yang dia katakan, “bukan bidadari yang aku cari, bukan gedung-gedung yang tinggi dan megah mewah yang aku cari, akan tetapi ridho-nya Allah yang menciptakan bidadari dan juga gedung-gedung itu”, kita tahu, tapi kenapa kita tidak bangun malam?.

Karena apa? Al-Habib Abdullah Al-Haddar mengatakan, “orang yang tidak bangun malam itu karena allah tidak berkehendak bertemu dengannya”, karena kita bermaksiat, karena kita melakukan sesuatu yang memurkai-nya, maka Allah ta’ala tidak mau bertemu dengan orang itu sehingga dibiarkan, dibuat dia itu tidur, rugi, oleh karenanya orang yang tidak bangun malam, ruginya luar biasa, lebih baik hilang dunia, lebih baik dia hilang keluarga daripada sampai ketinggalan.

Bangun malam, kenapa? doa dikabulkan, kalau ditanya, mau kamu doamu dikabulkan? mau, maka bangun malam, kenapa tidak mau bangun? berarti tidak mau dong, kalau mau, apapun akan dilakukan, kemauannya besar, sudah tahu dia, berarti allah tidak berkehendak dia dikabulkan doanya, oleh karenanya, bangun pada malam hari.

قِيَامُ اللَّيْلِ دَأْبُ الصَّالِحِيْنَ.

Bangun malam itu adalah kebiasaan orang-orang yang sholih,

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَىٰ أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَّحْمُودًا

(Al Isra’ : 79)

Ada cerita, cerita itu, sebagaimana kata Imam Hasan Al-Bashri menguatkan keimanan yang lemah, motivasi buat kita, sehingga kita itu tergerak dan bersemangat untuk melaksanakannya.

Ada seorang wali, wali itu suka kawin, kalau dia itu melihat wanita cantik, dikawini, suatu waktu muridnya yang kebetulan punya istri yang cantik, dia ini mengundang gurunya itu, maka kemudian gurunya menyanggupinya, yang wali itu, akhirnya dia berpesan, “istriku, kamu jangan tampakkan dirimu ya kepada wali itu, kepada guruku, karena dia itu bisa melihat, bisa kasyaf dia”, “oh iya, iya”.

Akhirnya apa? ya taat kepada perintah suaminya, dia mulai masak sampai gurunya datang, tidak melihat, ngintip saja tidak, biasanya kan kalau ada tamu di intip-intip, ini etidak karena berpegangan teguh kepada suaminya, sampai sudah makan, sampai keluar rumah, begitu keluar rumah, terpikirkan oleh perempuan itu, “Dia ini kan orang wali besar, sekalinya datang ke rumah, masa aku tidak melihatnya, apalagi aku bisa melihatnya”, akhirnya dia memandangnya.

Karena penasaran, dia ingin melihatnya, ketika melihatnya, dia pergi kelihatan kakinya aja dari belakang, akhirnya dia berhenti, “Eh siapa itu yang ngintip, yang cantik itu?” “Itu adalah istriku dan aku sudah ceraikan, guru”, begitu diceraikan, selesai iddahnya, dikawin sama gurunya, beberapa bulan kemudian, diceraikan lagi, begitu diceraikan, kawin lagi sama muridnya itu, dapat barokah gurunya deh.

Akhirnya apa? “Apa sih yang dilakukan oleh guru itu, sehingga dia dapat makam yang tinggi di sisi Allah?” “Kayaknya sama kamu, lebih banyak deh, Bahkan yang aku heran itu, kalau dia itu tahajjud ya, dan dzikirnya dia bukan seperti dzikiran kamu, Kamu kan baca Quran, baca shalawat, baca ini itu”,

“Terus dia kerjanya apa?” “dia hanya bilang, ana ana ana, Sampai subuh, ana ana ana”, Kata muridnya itu, “Oh itulah yang menyebabkan dia itu tinggi derajatnya”,

Kenapa? Sepertiga malam, Allah Ta’ala menyodorkan rahmat-Nya, dengan mengatakan, “Ada yang membutuhkan kepada permintaan pada-ku? ana, aku akan berikan, ada yang mau minta ampun? ana, ada yang mau bertobat? ana”, dia termasuk yang mendengarkan khitob Allah, kapan? di siang hari? pagi hari? Bukan, namun di malam hari, oleh karena itu bangun malam.

Kemudian di antara sopan santun dalam berdoa adalah hendaknya kita berdoa diawali dengan hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah, nanti diakhiri dengan shalawat kepada Rasulullah dan hamdalah, kenapa? karena hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah itu pasti diterima oleh Allah ta’ala, kalau kita awali dan akhiri dengan keduanya, maka hasya wa kalla allah ta’ala itu tidak akan menerima mengambil ujungnya aja, tapi tengahnya tidak diangkat.

Makanya biar tahu bahwa ini penting, kalau mau berdoa bacalah hamdalah dulu, hamdalah ya, kemudian shalawat kepada Rasulullah, kemudian selalu diakhiri dengan shalawat kepada Rasulullah dan hamdalah, kalau doa seperti itu, insya allah akan dikabulkan, begitu ditambah lagi kata Habib Abdullah Al-Haddad “ma’al luthfi wal ‘afiyah”.

Ya Allah, kabulkanlah hajatku semuanya itu ma’al lutfi wal afiyah wa sholllallah ‘ala Sayyidina Muhammadin wa ‘ala alihi wa shohbihi wa sallam, walhamdu lillahi robbil ‘aalamiin, begitulah di antara sopan santun cara berdoa, supaya doa kita dikabulkan.

Kemudian hendaknya kita itu berdoa dalam keadaan suci, berwudhu dulu, kalau bisa sholat dulu, makanya ada namanya sholat hajat, sholat dua rakaat, mendekatkan diri kepada allah ta’ala, lalu kita berdoa kepada Allah.

Kemudian di antaranya adalah menghadap kiblat, Jadi kalau doa itu menghadap kiblat, bukan Allah Ta’ala ada di arah kiblat, Allah Ta’ala :

فَأَيْنَمَا تُوَّلَّوْا وُجُوْهَكُمْ فَثَمَّ وَجْهُ اللهِ,

Allah Ta’ala  tidak terkait dengan tempat

وَ هُوَ أَقْرَبُ إِلَيْكُمْ مِنْ حَبْلِ الْوَرِيْدِ,

Allah Ta’ala lebih dekat kepada kita daripada urat yang ada di sini, lebih dekat, Jadi tidak usah kita berdoa sampai jerit-jerit, kenapa? Allahnya jauh di sana, tidak, tidak perlu, apalagi banyak orang tidur, mengganggu orang tidur dosa, minta kepada Allah Ta’ala, tapi diucapkan, Jangan cuma terlintas di dalam hati, diucapkan apa yang kita minta, minta kepada Allah Ta’ala.

Lalu di antara sopan santun Berdoa adalah kita hendaknya menggunakan doa-doa yang datang daripada Allah maupun Nabi Muhammad SAW, Kenapa? Doa itu adalah doa yang melingkupi, mencakupi, meliputi semua yang kita inginkan, Siapa yang bisa berdoa seperti doanya :

رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَ فِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ,

Ada yang lebih sempurna daripada itu?  tidak ada, yang buat allah, fiddunya hasanah, semua di dunia semuanya kebaikan, semua kebaikan, apa aja yang disebut dengan kebaikan? Mobil adalah kebaikan, istri yang cantik juga kebaikan, istri yang sholihah juga kebaikan, anak yang sholeh juga kebaikan, kabul hajat juga kebaikan, semuanya adalah kebaikan.

Wa fil akhiroti hasanah kebaikan, apa kebaikan di akhirat? Jannah, selamat daripada hisab, mendapat syafaat Nabi Muhammad, ada yang lebih sempurna?.

Wa qina ‘adzabannar, selamatkan kami dari api neraka, Itu kan pokok-pokok semuanya itu, Atau yang datang daripada Nabi, yang diajarkan oleh Nabi, di antaranya yang diajarkan oleh Nabi adalah :

اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ مِنَ الْخَيْرِ كُلِّهِ، عَاجِلِهِ وَ آجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَ مَا لَمْ نَعْلَمْ,

Ya Allah, aku minta kebaikan-Mu ya Allah, Semuanya yang dekat datangnya, maupun yang akan datang, Yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui.

وَ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الشَّرِّ كُلِّهِ, عَاجِلِهِ وَ آجِلِهِ، مَا عَلِمْنَا مِنْهُ وَ مَا لَمْ نَعْلَمْ,

Dan aku berlindung kepada-Mu ya Rabb, dari semua kejahatan, semua keburukan yang aku ketahui maupun yang tidak aku ketahui, yang datangnya sekarang ataupun yang akan datang.

اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ بِمَا سَأَلَكَ مِنْهُ عَبْدُكَ وَ نَبِيُّكَ وَ عِبَادُكَ الصَّالِحُوْنَ,

Aku memohon kepada-Mu dengan permohonan, yang pernah dipermohonkan oleh Nabi, oleh hamba-hamba yang sholeh, Dan aku berlindung kepada-Mu dari semua yang dimintai perlindungan oleh Nabi, oleh orang yang Sholeh itu.

اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْجّنَّةَ وَ مَا قَرَّبَ إِلَيْهَا مِنْ قَوْلٍ وَ عَمَلٍ وَ اعْتِقَادٍ,

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu surga dan semua yang mendekatkan diriku kepada surga, dari perkataan, dari tindakan, dari lintasan, Dan aku berlindung kepada-Mu dari pada neraka dan semua pekerjaan, lintasan, tindakan, ucapan yang mendekatkan kepada neraka, itu adalah doa Nabi yang diajarkan kepada siapa sayyidatuna Aisyah Habibatun Nabi SAW.

اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَجْعَلَ كُلَّ قَضَاءٍ تَقْضِيْهِ لَنَا خَيْرًا,

Ya Allah, aku mohon jadikan semua ketentuan-Mu yang Engkau tentukan kepadaku adalah kebaikan,

Ada yang lebih baik daripada itu? Itu doanya nabi, lengkap, jadi banyak doanya nabi kita ambil, lebih baik kita doa seperti itu, daripada, ‘ya Allah aku minta rumah yang kayak gitu, aku minta toko yang itu, aku minta ya,’ kalau rumah itu ada hantunya gimana? sudah terlanjur tidak punya rumah lagi, rumah itu aja yang dikabulkan, gimana? oleh karenanya, minta dengan yang diajarkan oleh Nabi muhammad, demikianlah di antara sopan santun berdoa.

 

 

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *